
Seminar Nasional: Arah dan Tantangan Pendidikan Tinggi serta Peran PTS Aceh di Era Pendidikan 6.0
Banda Aceh, 11 Agustus 2026 — Perguruan tinggi swasta (PTS) di Aceh dituntut untuk mampu membaca perubahan teknologi, perkembangan industri, serta kebutuhan masyarakat yang semakin dinamis. Tantangan tersebut menjadi salah satu pokok bahasan dalam Seminar Nasional yang mengangkat tema “Arah, Tantangan Pendidikan Tinggi dan Peranan PTS Aceh ke Depan”.
Seminar nasional ini menghadirkan sejumlah akademisi dan tokoh pendidikan sebagai narasumber. Kegiatan dipandu oleh Prof. Dr. Irianto Ansari, M.Pd. selaku moderator. Salah satu pemateri utama adalah Prof. Dr. Ir. H. M. Budi Djatmiko, M.Si., M.E.I., yang menyampaikan orasi ilmiah mengenai Education 6.0 dan inovasi pendidikan masa depan.
Dalam paparannya, Prof. Budi menekankan bahwa perkembangan teknologi akan membawa perubahan besar terhadap kehidupan manusia dan dunia kerja. Memasuki sekitar tahun 2030, penggunaan robot, kecerdasan buatan, dan berbagai teknologi otomatisasi diperkirakan akan semakin masuk ke dalam berbagai aspek kehidupan.
Menurutnya, persoalan utama bukan sekadar apakah teknologi akan menggantikan manusia, melainkan sejauh mana manusia dan institusi pendidikan mempersiapkan diri menghadapi perubahan tersebut. Perguruan tinggi, khususnya PTS, perlu membangun kapasitas sejak sekarang agar lulusan tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi mampu beradaptasi dan menciptakan inovasi.
Ia juga mengingatkan bahwa perkembangan pendidikan tidak dapat berjalan lebih lambat daripada perkembangan industri. Perguruan tinggi seharusnya mampu mendahului kebutuhan industri melalui pengembangan ilmu pengetahuan, keterampilan, riset, dan inovasi. Namun, dalam praktiknya, masih terdapat kesenjangan antara perkembangan pendidikan tinggi dan dunia industri.
“Perguruan tinggi harus melampaui industri, bukan berada di belakang industri,” menjadi salah satu penekanan dalam paparannya.
Konsep Education 6.0, menurut Prof. Budi, membutuhkan perubahan paradigma pembelajaran. Pendidikan masa depan tidak lagi sepenuhnya bergantung pada ruang kelas konvensional, tetapi berkembang menuju sistem pembelajaran yang lebih fleksibel, personal, berbasis data, berkelanjutan, dan memanfaatkan teknologi.
Beberapa fondasi yang dikemukakan meliputi pembelajaran berbasis otak, personalisasi berbasis data, pembelajaran berkelanjutan dan berlapis, literasi universal, pendidikan imersif, serta pemerataan kesempatan belajar.
Konsep “kelas tanpa batas” juga menjadi bagian penting dalam pendidikan masa depan. Pembelajaran tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu, sehingga mahasiswa dapat memperoleh pengetahuan dari berbagai sumber dan lingkungan belajar. Model pembelajaran dapat dikembangkan melalui kombinasi tatap muka, pembelajaran daring, MOOC, serta pemanfaatan kecerdasan buatan dalam proses pembelajaran.
Menurut Prof. Budi, dosen juga perlu terus memperbarui kompetensinya. Perubahan karakteristik mahasiswa dan perkembangan sumber pengetahuan menuntut dosen untuk tidak hanya mengandalkan pengetahuan yang diperoleh pada masa lalu, tetapi terus belajar dan menyesuaikan metode pembelajaran dengan perkembangan zaman.
Sementara itu, materi lain disampaikan oleh Prof. Dr. Rer. Nat. Ilham Maulana yang menyoroti pentingnya keterkaitan antara perkembangan ilmu pengetahuan, teknologi, dan nilai-nilai agama. Ia mengangkat konsep “Iqra’ Bismi Rabbik” sebagai salah satu fondasi penting dalam membangun budaya belajar dan pengembangan ilmu.
Menurutnya, perintah membaca dalam Surah Al-‘Alaq memiliki makna yang luas. Membaca tidak semata-mata dimaknai sebagai membaca teks tertulis, tetapi juga memahami berbagai fenomena dan tanda-tanda yang terdapat dalam kehidupan. Dengan demikian, pendidikan seharusnya mendorong manusia untuk terus mengamati, bertanya, memahami, meneliti, dan mengembangkan pengetahuan.
Ia menilai bahwa budaya membaca dan kemampuan memahami pengetahuan perlu terus diperkuat, termasuk di Aceh. Perguruan tinggi memiliki posisi strategis dalam membangun budaya akademik yang mendorong mahasiswa dan sivitas akademika untuk membaca, melakukan penelitian, serta menghasilkan inovasi yang relevan dengan kebutuhan masyarakat.
Dalam konteks Aceh, menurutnya, terdapat kekuatan yang dapat menjadi pembeda dalam pengembangan pendidikan, yakni integrasi ilmu pengetahuan dengan nilai-nilai agama. Kemajuan teknologi tidak harus dipertentangkan dengan nilai agama, tetapi dapat diarahkan agar perkembangan ilmu tetap memiliki landasan etika dan kemanusiaan.
Seminar tersebut sekaligus menjadi ruang refleksi bagi PTS di Aceh untuk memperkuat perannya dalam menghadapi perubahan pendidikan tinggi. PTS tidak hanya dituntut menghasilkan lulusan yang memiliki kompetensi akademik dan profesional, tetapi juga perlu membangun kemampuan adaptasi, literasi teknologi, budaya riset, inovasi, serta karakter yang berlandaskan nilai-nilai moral dan agama.
Perubahan menuju Education 6.0 pada akhirnya bukan hanya persoalan penggunaan teknologi di ruang kelas. Perubahan tersebut menyangkut paradigma pendidikan, kompetensi dosen, karakter mahasiswa, budaya akademik, tata kelola perguruan tinggi, serta kemampuan institusi membaca kebutuhan masa depan.
Bagi PTS di Aceh, tantangan tersebut sekaligus menjadi peluang untuk membangun model pendidikan tinggi yang memiliki kekhasan. Perpaduan antara penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi dengan nilai-nilai keislaman dapat menjadi salah satu kekuatan dalam menyiapkan lulusan yang tidak hanya mampu menghadapi perubahan dunia kerja, tetapi juga memiliki tanggung jawab sosial dan moral.